Ruhani (Nyawa)
Ruhani atau nyawa
berasal daripada nur (cahaya). Setelah jasmani diselesaikan dalam kandungan
maka Allah menjelaskan di surat Shaad ayat 71-72:
إِذۡ
قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن طِينٖ ٧١ فَإِذَا
سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ٧٢
Artinya:
Ingatlah tatkala Tuhanmu berfirman kepada malaikat
jibril: Aku jadikan manusia (jasmani) itu daripada tanah, tatkala Aku
sempurnakan kejadiannya maka Aku hembuskan kedalam tubuhnya itu sebagian dari
pada ruh (nyawa), maka lahirlah ia seraya bersujud (tertelungkup), dan menghormat kepada-Ku.
(QS. Shaad [38]:
71-72)
Sesuai dengan ayat di atas maka jelaslah sudah bahwa
jasmani itu baru hidup setelah dihembuskan ruh kedalamnya. Dengan demikian maka
menjadi jelas pula, bahwa ruhani atau nyawa itu berfungsi sebagai alat yang
menghidupkan jasmani atau dapat juga kita umpamakan sebagai mesinnya. Ruhani
dijadikan dari pada nur (cahaya) dan sebagaimana halnya dengan cahaya, ruhani
tadi akan memenuhi ruangannya sendiri. Firman Allah dalam surat Bani Israil
ayat 85:
وَيَسَۡٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ
رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥
Artinya:
Katakanlah Hai Muhammad, bahwa ruhani atau nyawa itu adalah urusan Tuhanku
(Allah).
(QS. Bani Israil [17]: 85)
