لاَ إِلَهَ إِلَّا الله المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ ۝ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ

Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Menguasai Lagi Maha Benar Muhammad adalah utusan Allah, Orang Yang Benar Janjinya lagi Dapat Dipercaya

Keajaiban Manusia

Barangsiapa kenal dirinya, maka ia kenal dengan Tuhannya

Nafsu Atau Jiwa


Nafsu Atau Jiwa


Tadi kita sudah ketahui bahwa yang disebut manusia itu ialah perpaduan dari tiga bagian atau jenis.

Kalau kita ambil sebagai perumpamaan sebuah mobil, maka kita akan dapat menyimpulkannya sbb :

  1. Jasmani (tubuh kasar)
     Merupakan sebuah wadah atau kerangka sebuah mobil (kendaraan yang sempurna dan lengkap dengan bagian-bagiannya).                                            
  1. Ruhani (nyawa)
Merupakan baterai atau accu dari kendaraan tersebut untuk menghidupkan mesin.
  1. An-nafs (jiwa)
     Merupakan pengemudi atau supir dari kendaraan tersebut dan supir ini pulalah yang diberi tanggung jawab untuk mengatur, mengemudikan dan merawat kendaraan tersebut. Buruk baiknya kendaraan itu akan dikemudikannya, tergantung kepada supir. Kalau kendaraan itu dibawanya kejalan yang salah, maka yang akan dihukum ialah supirnya, bukan mobilnya.

An-nafsu atau jiwa itu dilengkapi oleh Allah swt. dengan tiga unsur kekuatan, ketiga unsur kekuatan ini memiliki sifat yang berlain-lainan dan tiap-tiap unsur berusaha untuk menguasai unsur kekuatan lainnya. Ketiga unsur kekuatan yang terdapat dalam an-nafsu:

  1. Syahwat atau lawwamah dan dalam ilmu kesehatan dinamakan darah hitam. Adapun sifatnya: pemalas atau pasif. Tabiatnya serakah, rakus dan tidak berketentuan.
  2. Ghadab atau amarah dan didalam ilmu kesehatan dinamakan darah merah. Adapun sifatnya: sombong atau angkara murka. Tabiatnya: kejam dan buas, senang dipuji (riya) dan mementingkan diri sendiri, suka menjerumuskan orang lain untuk kesenangan diri sendiri.
  3. Natiqah atau mutmainnah dan dalam ilmu kesehatan dinamakan darah putih. Sifatnya: Arif bijaksana, penimbang, tenang dan tentram. Tabiatnya: suka menerima ilmu, kasih sayang.

Sesuai dengan yang tersebut diatas, maka jelaslah bahwa yang harus bertanggungjawab atas segala amal perbuatan manusia dihadirat Rabbul ‘Izzati di akhirat kelak adalah an-nafsu atau jiwa, sesuai dengan firman Allah dalam surat Az Zumar ayat 70:

 وَوُفِّيَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَا يَفۡعَلُونَ ٧٠
Artinya:
Akan dihadapkan tiap-tiap jiwa segenap amal perbuatan masing-masing. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa-apa yang diperbuat oleh manusia dimuka bumi.
(QS. Az Zumar [39]: 70)

Kemudian marilah kita perhatikan firman Tuhan disurat At Thaariq ayat 4:
 إِن كُلُّ نَفۡسٖ لَّمَّا عَلَيۡهَا حَافِظٞ ٤
Artinya :
Sesungguhnya tiap-tiap jiwa manusia itu ada yang mengawasi (Malaikat).
(QS. At Thaariq 86]: 4)

Oleh karena itu berhati-hatilah wahai manusia, jangan kamu berani berbuat kejahatan, karena semua amal perbuatanmu itu akan diperhitungakan di hadirat Ilahi Rabbi di akhirat kelak. Di manakah letaknya an-nafsu atau jiwa itu?

Sabda Rasulullahsaw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari/Imam Muslim.

اَلآَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُالْجَسَدِ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ الْجَسَدِ اَلاَ وَ هِىَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم)
Artinya :
Wahai Insan Ketahuilah olehmu bahwa didalam jasmanimu itu ada segumpal daging, jika daging itu sehat, maka sehatlah seluruh jasmanimu, tetapi jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasmanimu, daging yang dimaksud itu adalah jantung, tempat atau wadah dari an nafsu atau jiwa.(HR. Bukhari/Muslim)

Berdasarkan Hadits tersebut diatas maka menjadi jelaslah bahwa yang dinamakan manusia itu sesungguhnya adalah jiwanya. Jiwa itu terletak di dalam jantung atau qalbu dan dari keterangan terdahulu telah kita ketahui pula bahwa jiwa atau an nafsu itu diperlengkapi dengan tiga unsur kekuatan.

Demikian pula telah kita ketahui sifat-sifat maupun keinginankeinginannya masing-masing agar supaya hidup dan penghidupan kita terpelihara dari pengaruh dan bisikan-bisikan musuh-musuh manusia. Yakni iblis dan jin yang senantiasa berusaha untuk menjerumuskan dan menyesatkan manusia, maka keinginan-keinginan (hawa) jiwa itu harus ditertibkan karena firman Allah dalam surat Shaad ayat 82–83:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣
Artinya:
Telah berkata Iblis: wahai Tuhan, demi kebesaran Engkau akan kusesatkan mereka semuanya (manusia) kecuali hamba-hamba-Mu yang suci dan bersih.
(QS.  Shaad[38]: 82-83)

Agar supaya hidup dan kehidupan kita terpelihara dari pada pengaruh yang akan menyesatkan dan menjerumuskan kita dan agar supaya hidup kita terarah kepada tujuanya, maka keinginan-keinginan jiwa itu harus kita tertibkan. Kita telah mengetahui unsur-unsur kekuatan yang berada dalam jiwa kita demikian pula sifat-difatnya.

Sekarang tinggal terserah kepada anda untuk memilihnya. Kalau jiwa anda dipimpin/dikuasai oleh :

1. Syahwat   : Maka anda akan menjadi seorang yang pemalas, tidak berketentuan, tamak dan lemah.
2.   Ghadhab  : Makaanda akan menjadi seorang yang sombong, riya (senang dipuji dan disanjung ),  pemarah, kejam, angkara murka dan ingin benar dan menang sendiri.
3. Natiqah    : Maka anda akan menjadi seorang yang tenang, tentram, arif dan bijaksana.

Setelah kita mengetahui akibat dari pengaruh ketiga unsur kekuatan yang berada dalam jiwa kita, maka kita yakin bahwa setiap insan akan berusaha mendudukkan natiqah sebagai pemimpin jiwanya. Dan kalau hal ini benar-benar dapat terlaksana, maka akan terciptalah dimuka bumi ini suatu masyarakat yang aman dan tentram.

Berkata seorang pujangga Islam :

أَقْبِلْ عَلَى النَّفْسِ وَاسْتَكْمِلْ فَضَائِلَهَا فَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لاَ بِالْجِسْمِ إِنْسَانٌ
Artinya :
Wahai insan, jagalah jiwamu dan hiasilah ia dengan keindahan–keindahan, karena kamu disebut manusia bukan karena jasmanimu, tetapi karena jiwamu.

Bagaimana cara–cara kita harus menjaga jiwa itu dan dengan apa pula ia harus dihiasi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini marilah kita terlebih dahulu membahas soal yang berikut, yakni :