Nafsu Atau Jiwa
Tadi
kita sudah ketahui bahwa yang disebut manusia itu ialah perpaduan dari tiga
bagian atau jenis.
Kalau
kita ambil sebagai perumpamaan sebuah mobil, maka kita akan dapat
menyimpulkannya sbb :
- Jasmani (tubuh kasar)
Merupakan
sebuah wadah atau kerangka sebuah mobil (kendaraan yang sempurna dan lengkap
dengan bagian-bagiannya).
- Ruhani (nyawa)
Merupakan
baterai atau accu dari kendaraan tersebut untuk menghidupkan mesin.
- An-nafs (jiwa)
Merupakan
pengemudi atau supir dari kendaraan tersebut dan supir ini pulalah yang diberi
tanggung jawab untuk mengatur, mengemudikan dan merawat kendaraan tersebut.
Buruk baiknya kendaraan itu akan dikemudikannya, tergantung kepada supir. Kalau
kendaraan itu dibawanya kejalan yang salah, maka yang akan dihukum ialah
supirnya, bukan mobilnya.
An-nafsu
atau jiwa itu dilengkapi oleh Allah swt. dengan tiga unsur kekuatan, ketiga
unsur kekuatan ini memiliki sifat yang berlain-lainan dan tiap-tiap unsur
berusaha untuk menguasai unsur kekuatan lainnya. Ketiga unsur kekuatan yang
terdapat dalam an-nafsu:
- Syahwat atau lawwamah dan
dalam ilmu kesehatan dinamakan darah hitam. Adapun sifatnya: pemalas atau
pasif. Tabiatnya serakah, rakus dan tidak berketentuan.
- Ghadab atau amarah dan didalam
ilmu kesehatan dinamakan darah merah. Adapun sifatnya: sombong atau
angkara murka. Tabiatnya: kejam dan buas, senang dipuji (riya) dan
mementingkan diri sendiri, suka menjerumuskan orang lain untuk kesenangan
diri sendiri.
- Natiqah atau mutmainnah dan
dalam ilmu kesehatan dinamakan darah putih. Sifatnya: Arif bijaksana,
penimbang, tenang dan tentram. Tabiatnya: suka menerima ilmu, kasih
sayang.
Sesuai
dengan yang tersebut diatas, maka jelaslah bahwa yang harus bertanggungjawab
atas segala amal perbuatan manusia dihadirat Rabbul ‘Izzati di akhirat kelak
adalah an-nafsu atau jiwa, sesuai dengan firman Allah dalam surat Az Zumar ayat
70:
وَوُفِّيَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ
مَّا عَمِلَتۡ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَا يَفۡعَلُونَ ٧٠
Artinya:
Akan dihadapkan tiap-tiap jiwa segenap amal perbuatan masing-masing. Karena
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa-apa yang diperbuat oleh manusia
dimuka bumi.
(QS. Az Zumar [39]: 70)
Kemudian
marilah kita perhatikan firman Tuhan disurat At Thaariq ayat 4:
إِن كُلُّ نَفۡسٖ لَّمَّا
عَلَيۡهَا حَافِظٞ ٤
Artinya
:
Sesungguhnya tiap-tiap jiwa manusia itu ada yang mengawasi (Malaikat).
(QS. At Thaariq 86]: 4)
Oleh
karena itu berhati-hatilah wahai manusia, jangan kamu berani berbuat kejahatan,
karena semua amal perbuatanmu itu akan diperhitungakan di hadirat Ilahi Rabbi
di akhirat kelak. Di manakah letaknya an-nafsu atau jiwa itu?
Sabda
Rasulullahsaw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari/Imam Muslim.
اَلآَإِنَّ
فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُالْجَسَدِ وَإِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَ سَائِرُ الْجَسَدِ اَلاَ وَ هِىَ الْقَلْبُ.
(رواه
البخاري ومسلم)
Artinya :
Wahai Insan Ketahuilah olehmu bahwa didalam jasmanimu itu ada segumpal
daging, jika daging itu sehat, maka sehatlah seluruh jasmanimu, tetapi jika
daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasmanimu, daging yang dimaksud itu
adalah jantung, tempat atau wadah dari an nafsu atau jiwa.(HR. Bukhari/Muslim)
Berdasarkan
Hadits tersebut diatas maka menjadi jelaslah bahwa yang dinamakan manusia itu
sesungguhnya adalah jiwanya. Jiwa itu terletak di dalam jantung atau qalbu dan
dari keterangan terdahulu telah kita ketahui pula bahwa jiwa atau an nafsu itu
diperlengkapi dengan tiga unsur kekuatan.
Demikian
pula telah kita ketahui sifat-sifat maupun keinginankeinginannya masing-masing
agar supaya hidup dan penghidupan kita terpelihara dari pengaruh dan
bisikan-bisikan musuh-musuh manusia. Yakni iblis dan jin yang senantiasa
berusaha untuk menjerumuskan dan menyesatkan manusia, maka keinginan-keinginan
(hawa) jiwa itu harus ditertibkan karena firman Allah dalam surat Shaad ayat
82–83:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣
Artinya:
Telah berkata Iblis: wahai Tuhan, demi kebesaran Engkau akan kusesatkan
mereka semuanya (manusia) kecuali hamba-hamba-Mu yang suci dan bersih.
(QS. Shaad[38]:
82-83)
Agar
supaya hidup dan kehidupan kita terpelihara dari pada pengaruh yang akan
menyesatkan dan menjerumuskan kita dan agar supaya hidup kita terarah kepada
tujuanya, maka keinginan-keinginan jiwa itu harus kita tertibkan. Kita telah
mengetahui unsur-unsur kekuatan yang berada dalam jiwa kita demikian pula
sifat-difatnya.
Sekarang
tinggal terserah kepada anda untuk memilihnya. Kalau jiwa anda
dipimpin/dikuasai oleh :
1. Syahwat : Maka anda akan menjadi seorang yang pemalas, tidak
berketentuan, tamak dan lemah.
2. Ghadhab : Makaanda akan menjadi seorang yang sombong, riya (senang
dipuji dan disanjung ), pemarah, kejam,
angkara murka dan ingin benar dan menang sendiri.
3. Natiqah : Maka anda akan menjadi seorang yang tenang, tentram, arif
dan bijaksana.
Setelah kita mengetahui akibat dari pengaruh ketiga unsur kekuatan yang
berada dalam jiwa kita, maka kita yakin bahwa setiap insan akan berusaha
mendudukkan natiqah sebagai pemimpin jiwanya. Dan kalau hal ini benar-benar
dapat terlaksana, maka akan terciptalah dimuka bumi ini suatu masyarakat yang
aman dan tentram.
Berkata seorang pujangga Islam :
أَقْبِلْ عَلَى النَّفْسِ
وَاسْتَكْمِلْ فَضَائِلَهَا فَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لاَ بِالْجِسْمِ إِنْسَانٌ
Artinya :
Wahai insan, jagalah jiwamu dan hiasilah ia dengan keindahan–keindahan,
karena kamu disebut manusia bukan karena jasmanimu, tetapi karena jiwamu.
Bagaimana cara–cara kita harus menjaga jiwa itu dan dengan apa pula ia
harus dihiasi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini marilah kita terlebih
dahulu membahas soal yang berikut, yakni :
