Dari
pelajaran yang terdahulu kita sudah ketahui apa sebenarnya yang dinamakan
manusia itu. Demikian pula sudah kita lakukan penelitian sehingga akhirnya kita
dapat pula mengetahui bagian-bagiannya seperti: jasmani, rohani, jiwa dan
demikian pula fungsi mereka masing-masing.
Dari
pelajaran itupun sudah kita ketahui bahwa jiwalah (an-nafsu) yang bertanggung
jawab buruk baiknya pemeliharaan jasmani, demikian juga ia harus
bertanggungjawab atas segala amal perbuatan manusia itu di hadapan rabbul
Izzati di akhirat kelak, oleh karena itu kepada jiwa pula diberikan pimpinan
yang benar (haq). Sedangkan yang hak itu hanyalah Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Firman Allah surat Al Imran ayat 60:
ٱلۡحَقُّ
مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ٦٠
Artinya:
Yang benar itu adalah dari Tuhanmu, oleh karena itu janganlah kamu termasuk
golongan orang-orang yang mendustakannya.
(QS. Al Imran [3]: 60).
Dengan
ayat ini menjadi jelaslah bahwa tidak ada sesuatupun yang hak, selain dari
Allah. Oleh karena itu untuk memperoleh hidup dan kehidupan yang selamat dan
sejahtera bentuklah pribadi muslim yang hak, untuk dapat membentuk pribadi
muslim yang hak harus dipenuhi syarat-syaratnya yakni tegakkanlah shalat.
Adapun
yang dimaksud membentuk pribadi muslim ialah membangun jiwa yang sejahtera,
tenang dan tenteram. Sudah barang tentu tidak akan mencapai ketenangan,
ketentraman dan kebahagiaan apabila manusia tidak menegakkan shalat.
Shalat dalam bahasa Arab mengandung arti:
- Do’a hamba kepada Allah swt
- Puji dan sanjung kepada Allah
dan Rosul
- Tali perhubungan hamba kepada
Allah swt dan manusia
Jadi
kalau seorang hamba menegakkan shalat
berarti seorang hamba menghubungkan dirinya kepada Allah untuk mohon (berdo’a)
serta memuji Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu untuk mendapatkan kekuatan
(kewibawaan) diwajibkan seseorang hamba menghubungi Allah, lima kali sehari
semalam yang telah difardlukan atas hamba-Nya yang mukmin, terutama sekali
dimalam hari yang disunnahkan oleh Nabi saw. Sesuai dengan firman Allah disurat
Al Insan ayat 25 dan 26:
وَٱذۡكُرِٱسۡمَ رَبِّكَ
بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ٢٥ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ
فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا ٢٦
Artinya:
Kemudian ingatlah nama Allah yang memelihara kamu pagi dan petang
disebagian dari pada malam. Dan sujudlah kepada Allah kemudian pujilah Dia
dikala malam yang panjang.
(QS. Al Insan
[76]: 25-26)
Maka
bagi seorang hamba yang melaksanakan perbuatan tersebut dijelaskan oleh Allah
didalam
surat
Al Qadar ayat 5:
سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ
مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ٥
Artinya:
Berbahagialah orang-orang yang beribadat kepada Allah di malam hari hingga
terbit fajar.
(QS. Al Qadar [97]: 5)
Kesimpulan:
Orang
yang ingin memiliki kewibawaan bagi jiwanya setelah mengakui bahwa “tidak ada
kekuasaan yang lain di dunia ini selain Allah dan mengakui benar-benar bahwa
Muhammad Rasulullah”. Tegakkanlah shalat di malam hari, sesuai dengan firman
Allah dalam surat Bani Israil ayat 79:
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن
يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩
Artinya:
Disebahagian malam hendaklah engkau shalat tahajjud . Sebagaimana shalat
sunnah, untuk engkau agar Allah mengangkat kamu disatu tempat yang terpuji.
(QS. Bani Israil [17]: 79)
Adapun
untuk melaksanakan shalat sebelum menegakkannya diwajibkan bagi hamba Allah
memenuhi syarat tersebut di bawah ini:
- Bersihkanlah pakaianmu dari
segala barang yang najis dan haram.
- Cucilah kulitmu terutama muka
dan kedua tanganmu sampai siku lalu sapu kepalamu lalu basuh kedua
kaki hingga mata kaki dari segala
perbuatan yang kotor dan yang munkar.
- Bersihkanlah jiwamu dari
segala perbuatan syirik, agar hilang dari segala macam keragu-raguan diri
dan membimbangkan jiwa dari segala bisikan-bisikan jin dan manusia.
Setelah
syarat-syarat tersebut kamu laksanakan ucapkanlah didalam jiwamu kemudian
ikrarkan dengan lidahmu kemudian laksanakan dengan amal perbuatanmu demikian:
اَشْهَدُ اَنْ لااِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ
واَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Artinya:
Aku mengaku bahwasanya tidak ada Tuhan yang sebenar-benarnya melainkan
Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku mengaku bahwasanya
Muhammad itu hamba-Nya dan pesuruh-Nya.
Selesai
yang demikian berdirilah tegak menghadap kiblat dengan syarat:
- Tenangkan jiwamu.
- Hilangkan segala rasa dan
perasaan yang mengganggu jasmanimu.
- Hilangkan segala keragu-raguan
dan kebimbangan yang membisikkan jiwamu.
Lalu
kamu ucapkan:
أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya:
Wahai Tuhan Aku memohon perlindungan daripada-Mu, dari
kejahatan yang terkutuk (sombong dan ria) karena tidak ada satupun makhluk yang
dapat menghindari dari perbuatan terkutuk, kecuali dengan perlindungan-Mu, yang
bersifat:
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Artinya:
Wahai Tuhan yang bersifat Pemurah dan Pengasih, aku
berdiri tegak menghadap kepada-Mu dengan ihlas serta bersih, sebab telah aku
sadari segala dosaku tak dapat aku lewati bila tidak Engkau rahmati.
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ٢ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ ٣ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ
٤ ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ
وَٱلنَّاسِ ٦
Artinya:
1.Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang
memelihara dan menguasai) manusia.2.
Raja manusia.3. Sembahan manusia.4.
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, 5. Yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan
manusia.6. Dari (golongan) jin dan
manusia.
(QS. An Naas[114]:
1-6)
Keterangan:
Ayat tersebut mendidik kepada ummat mukmin cara
membersihkan jiwa dari segala yang membimbangkan dan meragukan itu yaitu:
- Mahluk jin.
- Mahluk manusia.
Adapun jin sifatnya ialah membuat manusia yang mukmin
agar lalai melaksanakan perintah Allah sehingga tidak sadar, bahwa yang
memelihara manusia ialah Allah swt. Adapun mahluk manusia terutama sekali
keluarga sendiri yaitu istri dan anak, malah yang paling berat dihadapinya.
Bila kedua makhluk dapat diatasinya pasti manusia yang mukmin akan hilang dari
lubuk jiwanya kebingungan, keragu-raguan dan ketakutan didalam segala segi
kehidupan dunia.
Kemudian angkatlah kedua tangan hingga dua ujung jari
berbetulan (sejajar) merata dengan kedua bahu, sambil mengucapkan:
اللهُ اَكْبَرُ
Artinya:
Engkaulah Allah Yang Maha Besar.
Kepada Engkaulah yaa Tuhan aku menyerahkan segala amal
perbuatanku, karena Engkau:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ اِلهَ
غَيْرُكَ
Artinya:
Wahai Tuhan, sungguh Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji
Engkau dan Maha Bahagia nama-Mu dan Maha Tinggi Kemuliaan-Mu dan tidak ada
satupun kekuasaan yang aku taati selain dari pada-Mu.
Sebagai bukti kelemahanku :
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya:
Wahai Tuhan! Aku mohon perlindungan diatas kekuasaan-Mu, dari segala
syaithan (kejahatan) yang terkutuk yang dapat menibulkan segala amal yang
berdosa.
Karena
Engkaulah Ya Tuhan :
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Artinya:
Dengan nama-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Sebab
itu aku puji Engkau.
ٱلۡحَمۡدُ
لِلَّهِ
Artinya:
Sungguh segenap puji adalah semata-mata bagi Allah.
Karena
Engkaulah:
رَبِّ
ٱلۡعَٰلَمِينَ
Artinya:
Yang memelihara alam semesta.
Sebab
Engkau bersifat:
ٱلرَّحۡمَٰنِ
Artinya:
Maha Pemurah. Karena Engkau tidak pilih kasih semua mahluk Engkau berikan
rizki baik kafir maupun majusi.
Terutama
kepada hamba-Mu yang berjiwa suci, karena Engkau bersifat:
ٱلرَّحِيمِ
Artinya:
Maha Penyayang. Kepada hamba-Mu yang mukmin dan muslim.
Sebagaimana Engkau katakan: Wahai mukmin:
وَلاَتَمُوْ
تُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Artinya:
Jangan kamu hampiri wahai mukmin sesuatu kematian sebelum
tercapai tujuan hidupmu selamat sejahtera di dunia serta bahagia di akhirat.
Karena Akulah:
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
Artinya:
Yang Merajai di hari pembalasan untuk membalas kepada
manusia di dalam segala amal perbuatan. Kubalas dengan kebahagiaan dan yang
berbuat jahat kumasukkan di dalam golongan (katagori) pengikut iblis.
Setelah mukmin mendengarkan ucapan yang demikian lalu
terbitlah di lubuk jiwanya, lalu ia ikrarkan dengan lisan;
إِيَّاكَ
نَعۡبُدُ
Artinya:
Jika demikian Wahai Tuhan, kepada Engkau sajalah aku
mengabdi dan kepada Engkau juga ya Tuhan aku memohon pertolongan.
Karena aku mengetahui Engkaulah:
وَإِيَّاكَ
نَسۡتَعِينُ
Artinya:
Allah itulah tempat aku mengharap.
Wahai
Tuhan:
ٱهۡدِنَاٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ
Artinya:
Tunjukkanlah kami di jalan yang lurus dan benar.
Yaitu:
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ
عَلَيۡهِمۡ
Artinya:
Kepada jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
atas mereka. Seperti para Nabi, para sahabat, para aulia dan para
shalihin.
Jalan
inilah Yaa Tuhan berikan kepadaku:
غَيۡرِ
ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ
Artinya :
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atasnya.
وَلَا
ٱلضَّآلِّينَ
Artinya:
Dan juga bukan jalan orang-orang yang Engkau sesatkan
atas mereka.
امِيْنَ
Artinya:
Wahai Tuhan terimalah segala mohonku ini, karena Engkau kutaati perintah-Mu, sebab Engkau
adalah:
اللهُ
اَكْبَرُ
Artinya:
Engkau Maha Besar, Yaa Allah sambil aku membungkukkan diriku (ruku’),
sebagai taatku kepada-Mu serta sambil aku ikrarkan dengan lisanku:
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
Artinya:
Maha Suci Tuhanku Amat Mulia Engkau. (tidak puas kuucapkan satu kali,
kuulang-ulang tiga sampai tujuh kali). Maha Suci Engkau Yang Amat Mulia, wahai
Tuhan. Lalu aku dengarkan perintah-Mu, dan aku turuti, aku tegak kembali
(i-tidal) sambil kuucapkan dengan mengangkat kedua tanganku sebagai tanda penyerahan
diri, karena Engkau :
سَمِعَ
الله ُ لِمَنْ حَمِدَه
Artinya :
“Semoga Allah memperhatikan dan memperkenankan orang–orang yang memuji
Engkau”.
Lalu
kuturunkan tanganku kebawah dengan lurus sambil kuucapkan :
رَبَّنَا
لَكَ الْحَمْدُ
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, kepunyaan Engkau segenap
puji-pujian”.
Sebab
itu kuangkat kedua tanganku sebagai tanda penyerahan diriku dengan penuh
kepada-Mu.
Sebab
Engkau :
اللهُ
اَكْبَرُ
Artinya :
“Engkaulah Tuhan Maha Besar “. Sambil kuucapkan didalam sujudku :
سُبْحَانَ
رَبِّيَ اْلاَعْلى
Artinya :
“
Maha Suci Engkau Yang Terlebih Amat Tinggi”. Kupuja Engkau berulang kali
didalam sujudku sebagai tanda takutku kepada-Mu. Lalu aku bangkit dari sujudku
sambil duduk dan menundukkan kepala dengan mengucapkan :
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْ نِيْ وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
Artinya :
“Wahai Tuhanku, ampunkan daku dan kasihanilah daku dan cukupkanlah daku dan
pimpinlah daku dan karuniailah daku”.
Kemudian
sekali lagi aku lakukan, sebagaimana semula agar supaya aku mendapatkan jawaban
dari Tuhanku terakhir aku duduk, didalam dudukku itu, (tahiyat) terdengarlah;
satu jawaban didalam lubuk jiwaku”.
اَلتَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَا تُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلى عِبَادِاللهِ الصَّا
لِحِيْنَ.اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهَ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍوَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ
Artinya :
Sekalian bakti ucapan dan sekalian bakti badan dan
sekalian bakti harta itu layak kepada Allah. Mudah-mudahan turun sejahtera
atasmu, hai nabi dan juga atas rahmat Allah dan karunia-Nya, mudah mudahan
turun sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku
mengaku dan menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang sebenar-benarnya
melainkan Allah. Dan aku mengaku bahwasanya Nabi Muhammad saw itu hamba-Nya dan
pesuruh-Nya. Wahai Tuhanku! Berilah rahmat atas Nabi Muhammad saw dan atas
keluarganya, sebagaimana Engkau telah beri rahmat atas keluarga Nabi Ibrahim.
Dan berilah karunia atas Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah
beri karunia atas keluarga Nabi Ibrahim. Karena sesungguhnya Engkau Yang Amat
Terpuji Yang Amat Mulia.
Setelah
selesai ucapan dan jawaban yang terbit dijiwaku lalu kuucapkan :
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Artinya:
Semoga sejahtera datang dari Allah atas kamu dan rahmat serta karunia dari
Allah.
Kemudian
kutengok ke kanan dan ke kiri, sebagaimana tanda penyelesaian caraku menghadap
kepada Allah swt.
Kesimpulan:
Bahwa
shalat yang diwajibkan atas umat manusia itu adalah satu tali perhubungan umat
kepada Allah untuk menyatakan diri kepada-Nya yang memang umat sangat berhajat
kepada-Nya. Inilah shalat yang mendapatkan hikmat dan rahasia-Nya.
