BAB PERTAMA
BANGSA ARAB SEBELUM DAN SESUDAH LAHIRNYA AGAMA ISLAM
Sebelum
datangnya agama Islam, bangsa Arab hidupnya berkabilah-kabilah dan bersuku-suku
serta berkelompok-kelompok.
Antara
kabilah dengan kabilah senantiasa terjadi permusuhan dan perpecahan yang
akhirnya mengakibatkan peperangan peperangan dan pertumpahan darah. Sehingga
persoalan yang kecil kadang-kadang meruncing kepermusuhan, hingga mengakibatkan
saling bunuh membunuh sampai berlarut-larut bahkan sampai berpuluh tahun
permusuhan jalan terus, perpecahan diantara kabilah dengan kabilah bertambah
besar.
Pada
umumnya mereka ini adalah penyembah berhala (patung) budi pekerti mereka sangat
rendah, demikian pula pada adat istiadat mereka dapat dikatakan tidak baik.
Kaum wanita termasuk anak-anak gadisnya mereka jadikan permainan untuk
memuaskan dan melampiaskan hawa nafsu mereka. Oleh sebab itu mereka disebut KAUM
JAHILIYAH : yang mana di dalam pengertiannya “manusia yang berpendirian
biadab."
Adapun
sifat kaum jahiliyah di masa itu ialah buas, kejam dan tidak mengenal
perikemanusiaan, sombong dan ria (senang dipuji dan disanjung). Sifat yang
demikian kalau kita banding-bandingkan dengan keadaan kita sekarang, sungguh
sangat mirip dengan sifat-sifat yang terjadi di negara kita ini.
Oleh
sebab itu Tuhan Yang Maha Esa memperingati kepada mukmin dengan firman-Nya: di
dalam surat Al Imran ayat 102 dan 103 :
يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم
مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
Artinya :
“Wahai para
mukminin tunduk dan patuhlah dengan benar-benar kepada hukum dan peraturan
Allah, dan jangan kamu hampiri satupun kematian sebelum tercapai tujuan hidupmu
di dunia ini selamat sejahtera hingga bahagia di akhirat kelak”.
(QS. Al Imran: 102)
وَٱعۡتَصِمُواْ
بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ
عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم
بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ
فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ
لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣
Artinya:
Oleh sebab itu berpegang teguhlah kamu dengan hukum Allah
keseluruhannyadidalam segi-segi kehidupan didunia ini, kemudian jangan kamu
adakan firqah-firqah kembali (partai) sesama kamu. Ingatlah nikmat yang
dikaruniakan atas kamu oleh Allah sebelum datangnya Agama Islam kamu selalu ada
didalam bermusuh-musuhan, maka dengan nikmat Islam itulah dapat dijinakkan
hati-hati kamu sehingga dengan nikmat itu kamu kembali menjadi bersaudara
(menjadi satu ummat).. ingatlah oleh kamu sebelum Islam datang kepada kamu,
hampir saja kamu masuk dijurang ketakutan, kebingungan dan kegelisahan, maka
Allah angkat kamu dari jurang-jurang tersebut. Demikianlah Allah
memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda
kekuasaan-Nya, semoga dengan peringatan ini menjadi pedoman dan petunjuk
didalam segi kehidupanmu.
(QS. Al Imran [3]: 103)
Sungguh Tuhan Yang Maha Esa tidak menyukai
perbuatan–perbuatan yang bathil. Ia senantiasa dipihak yang benar.
Maka tibalah saatnya, diangkatnyalah seorang Rasul dari
bangsa dan keturunan dari kaum itu sendiri yakni bangsa Quraisy, sebagai Rasul
yang penghabisan dari sekalian Rasul-Rasul yang terdahulu, dengan tugas:
- Membasmi
segala sifat-sifat kejahilan.
- Menghilangkan
sifat perpecahan dan permusuhan.
- Menumpas
kebodohan dan kesombongan.
Kemudian diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa yaitu:
- Menegakkan
keadilan dan kebenaran sesuai dengan kehendak Allah swt.
- Menjadikan
satu golongan umat saja yang menyuruh kepada manusia berbuat kebajikan dan
mencegah kemungkaran.
Sungguh suatu tugas yang tidak dapat dikatakan ringan,
karena ia hanya seorang diri dan seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai
sedikitpun harta peninggalan ayah dan neneknya. Sedangkan ia harus berhadapan
dengan satu kaum yang dipimpin oleh orang–orang yang kuat, berharta dan berpengaruh
atas kaumnya. Siapakah gerangan pemuda itu? ia adalah Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Muthalib al Quraisy.
Pemuda inilah yang dibebankan tugas yang sangat berat
untuk menumpas sifat-sifat kaum jahiliyah yang terkutuk itu (orde lama) untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran serta kesatuan umat yang berdasarkan keimanan
yang kuat serta teguh. Dan Muhammad ini pulalah yang mendapat gelar “Muhammad
Al Amin“ dari kaumnya. Ini terjadi dikota Makkah kira-kira pada tahun 611
Masehi ketika terjadi banjir sehingga hajar aswad pindah dari tempat semula.
(sebelum kenabian)
Dengan membawa sebuah Al Qur'anul Kariim (al Wahyu) dari
Allah swt. Muhammad Rasulullah mulai bergerak berjuang untuk mengubah, merombak
dan menumpas sifat-sifat dan adat istiadat kaum jahiliyah yang dipimpin oleh
Abu Jahal dan pengikut-pengikutnya. Dan kaum ini pulalah yang menghiasi Ka`bah
dan Ibu Kota Makkah dengan patung-patung yang beraneka ragam coraknya. Yang
mana patung-patung tersebut dibuat oleh mereka dari bermacam-macam bahan, ada yang
terbuat dari batu, kayu, perunggu, dan bahkan ada yang terbuat dari emas dan
perak.
Kesimpulan :
Agama Islam datang kepermukaan bumi ini adalah bertujuan
semata-mata untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan (ketakutan,
kebingungan, dan kegelisahan), sesuai dengan firman Tuhan di Surat Ibrahim ayat
1:
الٓرۚ
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ
بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِٱلۡحَمِيدِ ١
Artinya:
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan
izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa Lagi Maha
Terpuji.
(QS. Ibrahim [14]: 1)
Jadi setelah mengalami perjuangan yang lama dan berat
selama 22 tahun, akhirnya Rasulullah saw. Dengan Al Qur'an ditangannya
berhasillah menumpas dan menghancurkan sifat-sifat kaum jahiliyyah (orde lama),
kemudian menegakkan orde baru, yaitu tata cara kehidupan menurut ajaran Allah
swt.
Dengan hasil perjuangan yang gemilang maka tumbuhlah
dengan suburnya ditiap-tiap jiwa umat:
- Berjiwa
Ketuhanan Yang Maha Esa.
- Berjiwa
persaudaraan yang kokoh.
- Berjiwa
tunduk dan patuh kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.
- Berjiwa
cinta mencintai sesama manusia.
- Berjiwa
belas kasih sayang sesama makhluk.
Kemenangan Rasulullah atas kaum jahiliyah menimbulkan
perubahan yang sangat luas didalam perikehidupan bangsa Arab di masa itu.
Mereka menjadi bersatu padu menegakkan keadilan dan kebenaran, tidak lagi
berfirqah-firqah (berpartai-partai) dan bersuku-suku didalam Agama Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Serta telah mengubah rasa permusuhan menjadi
rasa berkasih-kasihan. Sesuai dengan sabdanya di dalam salah satu Hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari demikian:
عَنْ
أَنَسْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا
يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخارى)
Artinya:
Seorang dari pada kamu tidak dinamakan beriman melainkan
apabila ia mencintai saudaranya (seperti) apa yang ia mencintai buat dirinya
sendiri.
(HR. Bukhary)
Dan
sabdanya lagi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَدِّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ
الْجَسَدِ اْلوَاحِدِ إِذِا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ
الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَ الْحُمَّى(رواه مسلم)
Artinya:
Bandingan orang mukmin tentang bercinta-cinta dan
berkasih-kasihan dan bertolong tolongan itu seperti satu badan, apabila sakit
satu anggota tertariklah sekalian anggotanya hingga tidak bisa tidur serta
demam.
(HR. Imam Muslim)
Demikianlah berkat pimpinan Nabi saw. Menurut hukum-hukum
Allah, suatu umat telah bejat moralnya, berubah menjadi umat berbudi luhur dan
berkebudayaan tinggi, sehingga terciptalah satu masyarakat yang adil dan
beradab dalam waktu kurang dari seperempat abad.
Berkat kesempurnaan-Nya, maka tidaklah mengherankan kalau
dalam waktu kurang dari satu abad, oleh karena itu kekuasan Islam telah menjadi
luas wilayahnya terbentang dari Spanyol disebelah barat sampai ke negeri Cina
disebelah timur.
Ini hanyalah berkat Wahyu Allah (Al Qur'anul kariim)
sehingga manusia berada di dalam cahaya yang terang benderang (cahaya Islam
memancar). Adapun kalau kita perhatikan negara kita Republik Indonesia yang
kita cintai ini yang mempunyai pendirian yang terang dan nyata terhadap agama.
Sebagaimana dapat diketahui dalam UUD `45 NKRI. Dapat dibaca pasal sbb:
1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk dan
masyarakat berkewajiban untuk menjalankan agamanya masing-masing (bab XI pasal
R.I. lama)
Berdasarkan pasal ini, maka negara kita berdasarkan
agama. Sebab yang mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa hanyalah orang orang yang
beragama. Dan dengan demikian jelaslah pula bahwa di bumi Indonesia ini tidak
ada tempat bagi orang orang yang tidak beragama ( tidak bertuhan). Inilah
pendirian Orde Baru yang sesuai dengan Pancasila.
